Lagu "Pak Rebo" (sering dikaitkan dengan maestro campursari Manthous) adalah tembang Jawa yang sarat akan pesan moral, sindiran halus, dan filosofi hidup. Lagu ini menggambarkan manusia yang terlalu sibuk mengejar duniawi hingga melupakan esensi kehidupan dan kematian
.
Berikut adalah makna lagu "Pak Rebo" secara mendetail:
1. Sindiran atas Kegilaan Duniawi (Materialisme)
Lirik "Pak Rebo, lahire dina Kemis. Yen setu dodolan ning pasar Senin. Slasa Jumat mulih ning pasar Minggu" menggambarkan seseorang yang tidak memiliki waktu istirahat karena terus-menerus sibuk berdagang/bekerja. Hari-hari yang disebut secara acak (Senin-Minggu) menunjukkan betapa membingungkannya rutinitas pengejaran harta yang tanpa henti.
2. Harta Tidak Dibawa Mati
Bagian "Dhuwitmu jutaan, omahmu ra ketung. Bandhamu ora bakal melu" menegaskan bahwa sebanyak apa pun uang (jutaan) dan rumah (tak terhitung) yang dikumpulkan, semua itu tidak akan dibawa mati. Ini adalah pengingat untuk tidak serakah.
3. Kematian adalah Kepastian (Titiwanci)
Lirik "Yen uwis tekan titiwancine. Kadonyan nora bakal ana tegese" (Jika sudah tiba waktunya/ajal, keduniawian tidak akan ada artinya) menegaskan bahwa saat kematian menjemput, semua harta benda menjadi tidak relevan. Fokus lagu ini adalah mempersiapkan bekal akhirat daripada sekadar memperkaya diri.
4. Parikan (Pantun) dan Nilai Moral
Beberapa versi lagu ini juga menggunakan parikan (pantun Jawa) seperti "Tuku piring, dhuwite pas-pasan. Sing do eling, uripe sepisan"(Beli piring, uangnya pas-pasan. Yang pada ingat, hidup hanya sekali). Ini adalah peringatan untuk sadar bahwa hidup di dunia cuma sekali dan harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan, bukan hanya mencari kekayaan.
Kesimpulan:
Lagu "Pak Rebo" adalah refleksi diri tentang keseimbangan hidup. Manusia boleh bekerja keras, namun tidak boleh lupa bahwa harta tidak dibawa mati dan kematian adalah keniscayaan, sehingga harus tetap ingat Tuhan dan berbuat baik.